Respon Perkembangan Inovasi Bioscience, Prodi Biologi FST UIN Walisongo Semarang Bicarakan Bioforensik Berbasis Nanomaterial
UIN Walisongo Online, Semarang – Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang kembali mengundang pakar dalam sesi International Guest Lecture on Applied Bioscience. Acara yang diselenggarakan di Ruang teater Lt. 4, Gedung KH. Shaleh Darat, Kampus III UIN Walisongo pada Selasa (06/10/2026) tersebut mengundang David Nugroho, Ph.D, pakar nanomaterial dan bio-innovation dari Department of Integrated Science Khon Kaen University, Thailand. Ia menyampaikan materi “Applications of Nanomaterials in Forensic Science Investigations: Latent Fingerprint Development and Heavy Metal Ion Detection”. Acara dipandu oleh moderator Asri Febriana, M.Si dan dihadiri ratusan mahasiswa Biologi.
Dalam laporannya, Kaprodi Biologi, Dr. Dian Ayuning Tyas, M.BioTech menyampaikan bahwa mahasiswa biologi harus terus memperkaya wawasannya terkait tren perkembangan di bidang inovasi bioscience, termasuk di dalamnya terkait dengan bidang forensik. “International guest lecture ini merupakan salah satu upaya kami merespon perkembangan ilmu dan inovasi di bidang bioscience, termasuk terkait dengan bioforensik berbasis nanomaterial”, ungkapnya.
Dekan FST, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag, dalam sambutan membuka acara menyampaikan pentingnya kegiatan akademik yang mengundang pakar agar dunia kampus juga terus berkolaborasi dengan semua pihak. “Acara-acara seperti ini harus terus didorong, karena memberi perspektif baru bagi mahasiswa mengenai bagaimana perkembangan ilmu di dunia, dan juga membuka peluang kolaborasi internasional antar perguruan tinggi, seperti FST UIN Walisongo dengan Khon Kaen University, Thailand”, tegasnya.
Dalam paparannya, David Nugroho, Ph.D, menyampaikan perkembangan bioinovasi di bidang pemanfaatan nanomaterial berbasis karbon sebagai teknologi inovatif untuk mendeteksi kontaminan, khususnya logam berat, dalam produk pangan dan minuman. “Material seperti graphene, graphene oxide, carbon nanotubes, dan carbon dots memiliki luas permukaan tinggi serta sifat optik dan elektrik yang khas, sehingga dapat dikembangkan sebagai komponen sensor dengan sensitivitas tinggi. Teknologi ini berpotensi menghasilkan metode deteksi yang lebih cepat, sensitif, dan praktis untuk mendukung food safety monitoring serta memastikan produk pangan terbebas dari kontaminasi logam berat seperti Pb, Cd, Hg, dan As”, ungkapnya.
Selain bidang pangan, carbon-based nanomaterials juga memiliki potensi aplikasi dalam bidang forensik, khususnya sebagai alternatif material untuk pengembangan latent fingerprint detection powder. “Sifat permukaan dan karakteristik optik beberapa nanomaterial karbon memungkinkan material tersebut berinteraksi dengan residu yang terdapat pada sidik jari laten dan menghasilkan kontras visual yang lebih baik pada permukaan tertentu. Pengembangan material ini dapat menjadi alternatif terhadap fingerprint powder konvensional, dengan peluang menghasilkan serbuk yang memiliki sensitivitas, kontras, dan kemampuan visualisasi yang lebih baik, serta berpotensi diaplikasikan pada berbagai jenis permukaan dalam investigasi forensik”, tegasnya.