Dosen UIN Walisongo Bahas Adaptasi Dai di Media Sosial dalam IDACON 2026
UIN Walisongo Online, Yogyakarta — Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, Silvia Riskha Fabriar dan Alifa Nur Fitri, mempresentasikan kajian tentang adaptasi dai dalam memanfaatkan media sosial sebagai ruang dakwah pada 10th International Da’wah Conference (IDACON), Rabu (30/9/2026), di Hotel Mustika Yogyakarta.
Paper berjudul “When Preachers Meet Digital Culture: Adapting Da’wah to Social Media” tersebut mengkaji bagaimana perkembangan teknologi digital mengubah cara dai menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat. Dakwah yang sebelumnya banyak berlangsung melalui forum tatap muka kini berkembang melalui berbagai platform digital dengan karakteristik audiens yang lebih luas dan beragam.
Paper yang dipresentasikan mengkaji bagaimana perkembangan teknologi digital mengubah cara pesan-pesan Islam disampaikan kepada masyarakat. Dakwah yang sebelumnya banyak berlangsung melalui forum tatap muka kini berkembang melalui berbagai platform digital dengan karakteristik audiens yang lebih luas dan beragam.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi terhadap konten dakwah sejumlah dai yang aktif di media sosial. Data diperoleh melalui dokumentasi berbagai konten dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi dakwah di media sosial terlihat dari perubahan pada format, gaya komunikasi, dan pilihan tema. Dalam aspek format, dai memanfaatkan video berdurasi pendek dan live streaming yang memungkinkan pesan disampaikan secara lebih cepat, visual, dan interaktif.
Pada aspek bahasa, ditemukan kecenderungan penggunaan bahasa yang lebih ringan, komunikatif, dan dekat dengan keseharian audiens, dibandingkan dengan gaya penyampaian dakwah yang lebih formal. Penyesuaian tersebut membuat pesan keagamaan lebih mudah dikaitkan dengan pengalaman dan persoalan yang dihadapi audiens.
Sementara dari sisi tema, dai cenderung mengangkat isu-isu populer dan aktual yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Pemilihan tema tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap minat dan respons audiens dalam lingkungan media digital.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa strategi dakwah di media sosial tidak dapat dilepaskan dari logika media dan preferensi audiens. Media digital memiliki karakteristik tersendiri yang mendorong dai untuk menyesuaikan cara mengemas dan menyampaikan pesan agar dapat menjangkau serta melibatkan audiens secara lebih efektif.
Kajian ini menggunakan perspektif mediatization of religion dari Stig Hjarvard untuk menjelaskan bagaimana logika media turut memengaruhi praktik komunikasi keagamaan. Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya berfungsi sebagai saluran penyebaran pesan dakwah, tetapi juga ikut membentuk cara pesan tersebut diproduksi dan dikomunikasikan.
Rangkaian IDACON 2026 diawali dengan plenary session yang menghadirkan akademisi dari berbagai negara. Prof. Dr. Frans Wijsen dari Radboud University Nijmegen, Belanda, menyampaikan materi “Eco-Da’wah in a Fragmented World.”Sementara itu, Shu-Hua Kang, Ph.D.dari National Taipei University, Taiwan, membawakan “Building Social Recognition of Sexual Violence Survivors through Arts-Based Practices and Activism.”Dr. Nik Suhaida Nik Abdul Majid dari Universiti Sains Islam Malaysia menyampaikan “Da’wah and Islamic Management in a Fragmented World: From Local Wisdom to Global Engagement.”
Adapun Prof. Siti Syamsiyatun, Ph.D.dari FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyampaikan “Intergenerational Ecofeminist Da’wah: Strengthening Collaboration of Men and Women as Stewards of Ecological Justice for Healthier Coexistence.”
Kegiatan tersebut turut dibuka oleh Prof. Noorhaidi Hasan, M.A., M.Phil., Ph.D., Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keikutsertaan dosen UIN Walisongo dalam forum internasional ini menjadi bagian dari kontribusi akademik FDK dalam mengembangkan kajian dakwah kontemporer, khususnya dalam memahami transformasi dakwah di tengah perkembangan ekosistem media digital.