Kegigihan Teguh Waluyo, dari Petugas Sensus hingga Wisudawan Terbaik
UIN Walisongo Online, Semarang — Perhelatan akbar Wisuda Program Doktor (S3) ke-44, Magister (S2) ke-69, dan Sarjana (S1) ke-102 UIN Walisongo Semarang yang digelar di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (7/11/2026) menyisakan banyak kisah inspiratif yang menggugah jiwa. Salah satu cerita paling mengharukan dan membanggakan datang dari Teguh Waluyo, wisudawan asal Desa Blacanan, Kabupaten Pekalongan, yang sukses dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dari Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI).
Lahir dari keluarga sederhana di wilayah pesisir utara Pekalongan di mana sang ayah bekerja sebagai buruh tani melati dan ibu yang membantunya, Teguh tumbuh dalam keterbatasan lingkungan yang kerap dilanda banjir rob. Sebelum menjejakkan kaki di dunia perkuliahan, ia bahkan harus melewati masa gap-year selama satu tahun dengan merantau ke Bekasi untuk membantu berjualan mie ayam demi mengumpulkan modal awal pendidikannya.
Perjuangan kuliah Teguh pun diwarnai dengan ritme hidup yang luar biasa padat dan melelahkan. Selama bertahun-tahun, ia melakoni rutinitas komuter mingguan rute Semarang–Pekalongan. Jadwalnya terbagi secara disiplin: hari Senin hingga Rabu ia mengikuti perkuliahan di Semarang, sementara hari Kamis hingga Minggu ia kembali ke Pekalongan untuk bekerja paruh waktu guna menutupi biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), kontrakan, dan kebutuhan hidupnya secara mandiri.
Di Pekalongan, berbagai pekerjaan halal ia tekuni demi menyambung hidup dan membiayai studinya. Mulai dari menjadi petugas lapangan mitra Badan Pusat Statistik (BPS) untuk sensus penduduk, pertanian, hingga ekonomi sejak tahun 2022, melatih ekstrakurikuler Paskibra di SMK Negeri 1 Sragi yang pernah menyabet juara tingkat karisidenan, hingga membantu bisnis daring celana formal milik sepupunya. Berkat kerja keras tersebut, ia mampu bertahan tanpa harus sepenuhnya membebani orang tuanya.
Di tengah kesibukan ganda antara bekerja dan kuliah, Teguh membuktikan bahwa manajemen waktu dan kedisiplinan mampu mematahkan mitos bahwa kesibukan luar kampus menghalangi prestasi. Ia bahkan aktif dilibatkan oleh dosen pembimbing dalam berbagai kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) hingga akhirnya mengukir prestasi gemilang sebagai lulusan terbaik fakultas.
Judul skripsi yang diangkat oleh Teguh pun sangat mendalam dan sarat emosi, yakni “Implementasi Konseling Krisis dalam Menangani Problem Psikososial Korban Bencana Alam di Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan.” Mengangkat topik kebencanaan berbekal pengalamannya sebagai alumni Gladi Tangguh III UBALOKA (Unit Bantu Pertolongan Pramuka), penelitian ini mengkaji penanganan trauma psikologis dan kedukaan mendadak akibat bencana tanah longsor.
Proses penyusunan skripsi tersebut diwarnai ujian berat ketika kakak kandung kesayangannya meninggal dunia secara mendadak tanpa sakit. Di titik terendah duka mendalam itu, Teguh sempat berhenti melakukan wawancara lapangan selama berbulan-bulan dan beralih memperdalam literatur tentang kedukaan mendadak. Takdir mempertemukannya dengan realitas psikologis yang serupa antara dirinya dan para responden korban bencana. Berkat ketekunan, bimbingan dosen, serta dukungan berbagai pihak, skripsi yang disidangkan pada 25 September 2026 tersebut berhasil diselesaikan dengan nilai cemerlang dan dipersembahkan khusus sebagai obat kehilangan untuk almarhum kakaknya.
“Tugas manusia di dunia adalah untuk beribadah secara mahdho maupun ghairu mahdho (bekerja, bersosial yang baik) dan rizki Allah SWT yang mengatur, caranya terserah Allah SWT,” pesan Teguh merefleksikan perjalanan hidupnya.
Dukungan moral yang luar biasa juga ia dapatkan dari perjumpaannya dengan cendekiawan Muslim terkemuka, Fahruddin Faiz, yang memberikan motivasi berharga tentang pentingnya konsistensi hobi menulis tanpa harus muluk-muluk mengejar popularitas. Pesan tersebut menjadi bahan bakar mental bagi Teguh untuk terus merajut gagasan ilmiah di tengah keterbatasan.
Selepas merampungkan gelar sarjananya, pemuda tangguh asal pesisir Pekalongan ini menyimpan harapan besar untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang magister apabila ada kesempatan. Perjalanan hidup Teguh Waluyo meninggalkan pesan mendalam bagi civitas akademika UIN Walisongo Semarang bahwa ketulusan niat, kerja keras, kesabaran dalam membaca dan menulis, serta doa orang tua akan selalu menemukan jalannya untuk mengantarkan seseorang pada kemuliaan prestasi