Kisah Perjuangan Ahmad Rofiul Khoir, Awardee Beasiswa Bank Indonesia Menggapai Gelar Wisudawan Terbaik FISIP
UIN Walisongo Online, Semarang — Perhelatan akbar Wisuda Program Doktor (S3) ke-44, Magister (S2) ke-69, dan Sarjana (S1) ke-102 UIN Walisongo Semarang yang digelar di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (7/11/2026) menyisakan banyak cerita inspiratif yang menggugah jiwa. Salah satu kisah yang paling unik dan membumi datang dari Ahmad Rofiul Khoir, pemuda asal Kabupaten Rembang yang sukses dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik dari Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang.
Di balik toga kehormatan dan senyum bangganya, tersimpan kisah perjalanan awal kuliah yang diwarnai rasa gengsi dan ketakutan tertinggal dari rekan-rekan semasa di Madrasah Aliyah (MA). Rofiul mengaku bahwa dirinya dulu masuk kuliah bukan karena memiliki visi besar yang matang, melainkan karena dorongan FOMO (Fear of Missing Out) semata. Bahkan, izin kuliah dari sang kakak sempat ditolak mentah-mentah karena latar belakang sekolahnya yang tidak serius, sementara sang ibu memberikan lampu hijau dengan syarat ia berkuliah di dekat rumah sembari bekerja. Berkat bujuk rayu dan tekad kuat, ia akhirnya diizinkan merantau ke Semarang dengan niat awal yang sangat sederhana: sekadar mencari pengalaman.
Perjalanan studinya di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban dilalui dengan dinamika yang luar biasa padat. Dibesarkan dari keluarga pekerja keras di mana sang ibu berkerja sebagai buruh pengrajin batik tulis Lasem dan sang ayah sebagai buruh cat dempul truk, Rofiul harus memutar otak untuk bertahan hidup di perantauan. Di tengah kesibukannya menjalani perkuliahan, ia aktif mementaskan kapasitas diri melalui berbagai wadah organisasi dan pekerjaan sambilan, mulai dari pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo, hingga melakoni profesi sebagai driver ShopeeFood, freelance desainer grafis, penulis opini, serta inisiator komunitas Taman Baca Warga.
Kerja kerasnya di bidang akademik dan pengembangan diri berbuah manis ketika ia sukses terpilih sebagai Awardee Beasiswa Bank Indonesia pada tahun 2024 serta menyabet Juara 2 GenBI GENOVASI Cabang Lomba Esai. Meski kerap kewalahan membagi waktu antara organisasi, pekerjaan, dan tugas akademik, ia memegang satu prinsip mutlak: kewajiban akademik tidak boleh terbengkalai dan ia menolak untuk menambah semester demi meringankan beban ekonomi keluarga.
Ketajaman berpikir sosiologis Rofiul dituangkan secara brilian dalam tugas akhir skripsinya yang berjudul “Gerakan Sosial Petani dalam Memperjuangkan Reforma Agraria (Studi pada Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo, GERMAPUN)”. Melalui penelitian lapangan yang mendalam di Pati, ia meneliti perlawanan petani lokal terhadap penguasaan lahan sengketa oleh korporasi. Mengintegrasikan teori gerakan sosial kontemporer dengan dimensi keislaman melalui tafsir QS Ar-Ra’d ayat 11, ia berhasil mengejawantahkan visi besar almamaternya, Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu), dengan memadukan analisis sosial-politik dan spiritualitas secara harmonis.
“Saya tidak tahu apakah diri saya pantas dijadikan inspirasi. Karena kalau melihat perjalanan saya sendiri, saya merasa bukan orang yang sejak awal sudah hebat atau punya target besar. Kita tidak harus selalu punya peta yang lengkap untuk mulai berjalan. Kadang kita hanya tahu satu langkah kecil yang ingin kita lakukan. Jalani saja dulu,” ungkap Rofiul merefleksikan perjalanan hidupnya.
Ketika pertama kali mendengar pengumuman sebagai wisudawan terbaik, Rofiul mengaku sangat terkejut sekaligus senang. Sebelum mengabari kedua orang tuanya yang ia siapkan sebagai kejutan di hari wisuda, orang pertama yang ia beri kabar adalah sang kekasih, yang menyambut pencapaian tersebut dengan rasa bangga luar biasa. Bagi Rofiul, gelar wisudawan terbaik bukan sekadar hiasan CV atau angka akademik semata, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban moral serta bukti nyata kepada kedua orang tuanya bahwa ia benar-benar bersungguh-sungguh merantau untuk menuntut ilmu.
Selepas merampungkan studinya di FISIP UIN Walisongo, Rofiul berencana untuk mencari peluang beasiswa lanjut studi pascasarjana sembari terus bekerja dan mengabdikan diri di tengah masyarakat. Kisah hidup Ahmad Rofiul Khoir meninggalkan pesan yang sangat kuat bagi generasi muda: bahwa ketiadaan rencana yang sempurna di awal bukanlah halangan untuk bertumbuh, asalkan seseorang tidak pernah berhenti belajar, berani mengambil langkah kecil, dan senantiasa menghargai keringat serta perjuangan orang tua.