
Transformasi Digital Buka Peluang Baru Pengembangan Ilmu Falak di ASEAN
UIN Walisongo Online, Semarang – Transformasi digital membuka peluang baru bagi pengembangan ilmu falak dari perhitungan waktu ibadah hingga pengamatan hilal. Melalui konferensi internasional ALICIA 2026, UIN Walisongo mengangkat integrasi teknologi komputasi, ketepatan pengamatan astronomis, dan inovasi pendidikan sebagai agenda pengembangan Ilmu Falak di ASEAN.
Perkembangan teknologi membuka peluang baru dalam pengembangan ilmu falak melalui komputasi otomatis, pemodelan astronomis, dan pengolahan citra digital. Namun, ketepatan hasil perhitungan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pengamatan astronomis.
Isu tersebut dibahas dalam Annual International Conference on Islamic Astronomy (ALICIA) 2026 yang diselenggarakan FSH UIN Walisongo pada Rabu (14/10/2026). Mengusung tema “From Manual Calculation to Computational Excellence: Transforming Islamic Astronomy in ASEAN through Automated Systems”, konferensi yang diikuti 157 mahasiswa ini menghadirkan akademisi Indonesia dan Malaysia.
Teknologi Memperkuat Akurasi Ilmu Falak
Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo, Prof. Dr. A. Izzuddin, M.Ag., membahas perkembangan perhitungan astronomis dari metode manual menuju sistem otomatis. Perkembangan ini membuka peluang pengolahan data yang lebih efisien sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi dalam kajian astronomi Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu falak berperan penting dalam penentuan waktu salat, arah kiblat, dan awal bulan Hijriah. Karena itu, perkembangan metode perhitungan tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga kebutuhan masyarakat terhadap hasil perhitungan yang akurat.
Teknologi digital, seperti pemodelan komputasional dan pengolahan citra hilal, dapat mendukung proses perhitungan dan pengamatan astronomis. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan data yang andal serta pemahaman terhadap metode yang diterapkan.
Pengembangan teknologi tersebut perlu berjalan beriringan dengan pengujian dan evaluasi hasil. Dengan demikian, sistem otomatis dapat menjadi sarana untuk memperkuat kajian ilmu falak tanpa mengabaikan ketelitian ilmiah.
Ketepatan Komputasi dan Realitas Pengamatan
Judhistira Aria Utama membahas hubungan antara perhitungan komputasional dan realitas pengamatan Matahari melalui materi “Zawal’s Ihtiyatir: Between Computational Tolerance and Bio-Optical Reality”. Materi ini mengangkat pentingnya memahami batas perhitungan matematis ketika diterapkan dalam pengamatan astronomis.
Hasil perhitungan tidak selalu menggambarkan seluruh kondisi yang dijumpai di lapangan. Faktor atmosfer, kecerahan langit, karakteristik instrumen, dan kemampuan pengamat dapat memengaruhi hasil observasi. Dalam pengamatan hilal, faktor-faktor tersebut turut menentukan kemungkinan Bulan terlihat dari lokasi pengamatan.
Karena itu, perhitungan dan pengamatan perlu ditempatkan sebagai dua aspek yang saling melengkapi. Pemahaman terhadap keduanya menjadi bagian penting dalam pengembangan metode ilmu falak yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Pendidikan Falak di Era Digital
Mohd Razlan Bin Ahmad dari Academy of Contemporary Islamic Studies (ACIS), Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, membahas integrasi teknologi digital dalam pendidikan ilmu falak melalui materi “Digital Integration in Islamic Astronomy Education in Malaysia”. Pemanfaatan simulasi, visualisasi, dan perangkat komputasi dapat membantu mahasiswa menghubungkan teori dengan praktik astronomi.
Di sisi lain, penguasaan teknologi perlu disertai kemampuan menganalisis data dan memahami dasar perhitungan. Pendekatan ini penting agar mahasiswa tidak sekadar menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu mengevaluasi hasilnya secara kritis.
Keterlibatan akademisi Indonesia dan Malaysia dalam ALICIA 2026 membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai penelitian, pengamatan astronomis, dan inovasi pendidikan ilmu falak. Melalui forum ini, UIN Walisongo turut memperluas kolaborasi akademik di ASEAN sekaligus mendorong pengembangan astronomi Islam yang responsif terhadap kemajuan sains dan teknologi.
Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan pertukaran gagasan tersebut menjadi pengembangan metode yang teruji dan pembelajaran yang semakin aplikatif. Dengan fondasi keilmuan yang kuat serta pemanfaatan teknologi secara tepat, ilmu falak memiliki peluang untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi masyarakat di tingkat nasional maupun regional ASEAN.