
KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Revitalisasi Makam Kepunden Mbah Demang, Dorong Potensi Wisata Religi Desa Bunderan
UIN Walisongo Online, Demak, — Posko 121 Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN MIT) ke-22 UIN Walisongo Semarang meresmikan program unggulannya berupa revitalisasi Makam Kepunden Mbah Demang di Desa Bunderan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Senin (31/8/2026).
Peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Plt. Camat Wonosalam Sukardjo, Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang Prof. Akhmad Arif Junaidi, dan Kepala Desa Bunderan Nur Alim.
Revitalisasi Makam Kepunden Mbah Demang menjadi program unggulan Posko 121 setelah mendapatkan dukungan anggaran untuk mengembangkan potensi desa. Program tersebut dilaksanakan selama 16–27 Agustus 2026 dengan sejumlah kegiatan, di antaranya pembangunan gapura dan pemasangan plang makam.
Ketua Posko 121, Muhammad Zainul Ridho, mengatakan terpilihnya program revitalisasi tersebut sebagai program unggulan menjadi kesempatan bagi mahasiswa KKN untuk turut memberikan kontribusi bagi kemajuan Desa Bunderan.
Menurutnya, Makam Kepunden Mbah Demang memiliki nilai sejarah dan religi bagi masyarakat setempat. Mbah Demang disebut merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga. Karena itu, revitalisasi kawasan makam diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata religi.
“Harapannya, semoga kawasan ini dapat menjadi wisata religi,” tambahnya.
Kepala Desa Bunderan, Nur Alim, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada UIN Walisongo Semarang dan LP2M atas dukungan yang diberikan sehingga program revitalisasi Makam Kepunden Mbah Demang dapat terlaksana.
“Banyak terima kasih kepada UIN Walisongo dan LP2M karena telah membantu mencapai tujuan untuk merevitalisasi makam,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi keberadaan mahasiswa KKN selama menjalankan program di Desa Bunderan. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya melaksanakan program kerja, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk bekerja keras dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Selama di sini para mahasiswa KKN kami latih untuk bekerja keras. Anak-anak yang di sini anaknya saleh dan salehah,” katanya.
Sementara itu, Plt. Camat Wonosalam, Sukardjo, berharap kerja sama antara Pemerintah Desa Bunderan dan UIN Walisongo dapat terus berlanjut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN memberikan kontribusi dalam berbagai bidang, termasuk pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.
“Semoga kerja sama dengan UIN Walisongo bisa terus berlangsung. Budaya dan pemberdayaan masyarakat terbantu oleh teman-teman KKN,” tuturnya.
Ia menegaskan, keberhasilan kegiatan tersebut tidak terlepas dari koordinasi antara mahasiswa KKN dengan pemerintah desa. Revitalisasi makam juga dinilai menjadi bagian dari upaya nguri-uri sejarah yang ada di Desa Bunderan.
“Tanpa koordinasi dengan pemerintah desa, kegiatan ini tidak akan terjadi. Ini merupakan upaya nguri-uri sejarah yang ada di sini,” jelasnya.
Sukardjo berharap revitalisasi tersebut dapat meningkatkan daya tarik Makam Kepunden Mbah Demang sebagai lokasi ziarah bagi masyarakat. Ia menyebut program tersebut sebagai bentuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan desa.
“Dengan revitalisasi ini diharapkan menjadi daya tarik ziarah bagi masyarakat. Ini merupakan kolaborasi yang nyata antara kampus dan desa,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap model kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Program KKN juga diharapkan dapat terus bersinergi dengan program-program pembangunan desa.
Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang, Prof. Akhmad Arif Junaidi, juga mendorong agar potensi sejarah Makam Kepunden Mbah Demang dapat dikaji lebih lanjut. Ia menyebut penelitian mengenai ketokohan Mbah Demang penting dilakukan untuk memperkuat nilai sejarah kawasan tersebut.
“Untuk langkah lanjut, bisa diteliti kembali tentang ketokohan Mbah Demang,” katanya.
Peresmian revitalisasi Makam Kepunden Mbah Demang menjadi salah satu wujud kontribusi mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo dalam mengembangkan potensi lokal sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. Ke depan, kawasan makam diharapkan tidak hanya terawat secara fisik, tetapi juga semakin dikenal sebagai bagian dari khazanah sejarah dan potensi wisata religi Desa Bunderan.